Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts
Friday, November 11, 2011
Alkisah Sang Raja& Tiga Pembantu
Baru baca ada sebuah kisah seorang raja yang memiliki tiga pembantu...suatu hari beliau menyuruh ketiga pembantunya untuk mencari buah-buahan yang manis dan banyak di kebun kerajaan. Lalu sang Raja pun memberikan ketiganya masing-masing sebuah karung. Setelah itu pergilah ketiga pembantunya tersebut.
Pembantu yang pertama, dia mencari buah-buahhan yang paling bagus, paling manis, meskipun untuk menjangkaunya ia harus memanjat terlebih dahulu, namun akhirnya dengan usaha ia dapat mengambilnya.
Pembantu yang kedua, dia agak malas, karena kemalasannya dalam memanjat, akhirnya ia pun kurang serius dalam mengumpulkan buahnya, ia hanya mengambil buah yang tercecer di bawah tanah yang sudah kotor dan bahkan ada yang sudah busuk (mungkin dia pikir Rajanya ga akan "ngeh",,hehe).
Pembantu yang ketiga, dia berpikir "Raja terlalu sibuk, jadi dia tidak mungkin akan memeriksakan semua isi karungnya", akhirnya ia hanya memasukkan sejumlah ranting dan daun ke dalam karung hingga penuh.
Tibalah waktunya mereka bertiga menemui sang Raja, untuk menyerahkan hasil pencarian buahnya. Lalu Sang Raja pun kemudian berkata seperti ini, "Baiklah terima kasih untuk kalian bertiga, sekarang aku ingin kalian memakan sendiri buah-buahan yang telah kalian petik tadi". Jreng jreng jreng.....haha kira-kira menurut kalian siapa yang paling senang dan yang paling menderita,,?hhehehe
Pesan dari cerita ini adalah kita harus selalu mengupayakan yang terbaik, saat kita melakukan sesuatu dengan usaha yang terbaik, maka itu pun yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, saat kita asal-asalan melakukannya, "asal-asalan" juga yang akan kita terima....hehehe...
Semoga kita semua bisa mencontoh sifat dari pembantu pertama ya, dan bukan pembantu kedua apalagi pembantu ketiga..hehehehe....
Jya, Salam Hangat di Pagi yang cerah...
If u see the wall in front of you, just break it--Tintin Movie
With Love
Ghie'
Wednesday, November 9, 2011
Forgive and Help
Begitu sulitnya kau ucapkan kata maaf ataupun memaafkan dan begitu ego-kah dirimu hanya sekedar untuk meminta tolong, bahkan pertolongan yang kau dapatkan dari orang lain kau anggap sebagai bentuk pamrih.. Ya Tuhan apa yang salah dengan kata maaf dan tolong...
Maaf sebuah kata yang sederhana tapi penuh makna, ia adalah kata yang dapat mencairkan segalanya, bahkan hati yang beku sekalipun dapat mencair dengan sebuah kata "maaf yang tulus". Semua manusia di dunia ini saya kira tidak ada yang tidak luput dari kesalahan, karena manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, nobody's perfect.
Bahkan pemimpin dan guru terbesar umat manusia pun, Muhammad SAW, pernah melakukan kesalahan dan langsung ditegur oleh Allah SWT. Waktu itu beliau memalingkan pandangannya dari seorang yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang sedang ingin belajar tentang islam kepada Rosul, namun pada saat itu abdullah sedang menjamu para pembesar suku Quraisy, dan Rosul memalingkan wajah serta bermuka masam padanya. Saat itu juga Allah langsung menegur Rosul, yang teguranNya diabadikan dalam Al-Quran surat ke 80' Abasa.
Kalau seorang Nabi dan Rosul yang telah dijamin hidupnya oleh Allah untuk terjaga dari dosa dapat melakukan kesalahan, apalagi kita yang hanya manusia biasa, yang dipenuhi oleh dosa dan sering melakukan kesalahan, tapi mengapa begitu sulit mengucap kata "maaf" dengan tulus?...
Mungkinkah karena mengucap kata "maaf" membutuhkan keihklasan yang luaar biasa bagi yang mengucapkannya atau karena anggapan kita selama ini bahwa meminta maaf sama dengan menunjukkan diri ini kalah, lemah dan tidak berdaya..?? bahkan kita tidak pernah sadar bahwa sebenarnya kita salah dan lupa untuk meminta maaf.
Jika memang seperti itu, begitu kerdilnya jiwa ini...Padahal sebenarnya orang yang meminta maaf pertama kali lebih mulia di mata Allah. Meminta maaf akan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama. Meminta maaf dapat menyambungkan kembali silaturahmi dan dapat membabad habis permusuhan.
Di sisi Allah orang yang meminta maaf dengan tulus kepada orang lain adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong. Mengapa sering kali kita sulit mengucapkan kata maaf, atau jika kita sudah meminta maaf pada orang lain dengan tulus, orang tersebut belum bisa memaafkan kita sepenuhnya.
Kesombongan seringkali menjadi alasan mengapa kita tidak mau mengucapkan maaf. Kita sering tidak sadar karena sudah merasa "tidak salah", karena kedudukan yang kita miliki, karena kesuksesan yang telah kita raih, karena harta dan pangkat, membuat kita "enggan" mengucap maaf. Apakah kita tidak sadar bahwa sifat kesombongan inilah yang membuat syaithan enggan sujud kepada Nabi Adam.
Kesombongan dapat menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga, meskipun kesombongan itu sekecil biji sawi. Sabda Rosul:
"tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meskipun hanya sebesar biji sawi" (HR. Muslim).Sesungguhnya meminta maaf dan memaafkan dapat menghilangkan rasa sombong yang ada dalam diri karena secara tidak langsung membuat diri kita menerima keadaan sebagai mahluk yang tidak mungkin luput dari kesalahan. Meminta maaf tidak langsung membuat kita "kalah", justru kita "menang" dalam melawan ego kesombongan.
Lalu bagaimana jika kita sudah meminta maaf namun orang tersebut belum dapat memaafkan sepenuhnya diri kita. Allah pun mengajarkan bahwa :
"Orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (Asy Syura:43).Jangan mengeluh karena orang belum bisa memaafkan kita, yang penting kita sudah meminta maaf, memaafkan atau tidak itu bukan urusan kita, yang jelas Allah lebih suka pada pribadi yang mau meminta maaf meskipun itu bukan kesalahannya, dan itu jauuh lebih mulia di sisi Tuhan dan Memaafkan itu juga mulia di sisiNya
Bagaimana dengan kata Tolong salahkah kita meminta tolong dan memberikan pertolongan pada orang lain??...padahal manusia itu adalah mahluk sosial, dimana ia tidak akan lepas dari bantuan orang lain. Bahkan saat nanti kita meninggal, sudah menjadi mayat, siapa yang akan menghantarkan jasad kita kepada perisitirahatan terakhir kalau bukan bantuan dari orang lain..?
Mengapa kata "tolong" pun begitu sulit diucapkan bagi mereka yang sudah memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Padahal kedudukan dan kesuksesannya itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Tuhan. Tuhan hanya membedakan manusia dari tingkatan ketaqwaanya saja. Justru saat kita meminta tolong pada orang lain, bukan menunjukkan bahwa kita lemah, bukan, tapi itu sebuah kesadaran bahwa kita sadar dengan kelemahan dan kekurangan yang kita miliki, tolong membuat kita bisa menerima diri sendiri apa adanya, tau apa yang bisa kita lakukan sendiri dan yang tidak. Mengapa begitu tingginya ego kita hingga kita tidak mau dibantu dan mengucap tolong pada orang lain, bahkan ketika ada orang lain yang menolong kita, kita anggap itu sebagai "pamrih". Kita juga tidak mau khan, ketika kita menolong orang lain, kemudian orang lain itu mencap kita pamrih, bagaimana perasaannya, pasti tidak enak..
Sebagian orang terkadang karena merasa dirinya mampu, hingga ia tidak mau meminta tolong, karena jika meminta tolong, jatuhlah harga dirinya, dan itu salah besar. Kesombonganlah yang dekat dengan kita saat kita merasa seperti itu.
Apalagi ketika ada orang yang datang kepada kita dan meminta tolong dan kita mampu untuk menolongnya, wajib hukumnya bagi kita untuk menolong orang itu. Tolong menolong bukan hanya dalam bentuk materi, kita selalu terjebak dalam persepsi materi sebagai bentuk pertolongan, namun sebenarnya bukan itu saja, dan tergantung pada situasi, ketika kita melihat seorang anak yang menderita dan sedih ditinggal oleh ibunya, maka perhatian, senyuman dan semangat bisa menjadi bentuk pertolongan yang berharga bagi anak itu. Ketika kita melihat pengemis yang kelaparan, maka bantuan makanan dan uang sangat berharga bagi mereka. Semua manusia pasti akan dan pernah berada dalam posisi meminta tolong, dan menolong orang lain. Jangan acuhkan itu.
Jika kita terbiasa hidup saling tolong-menolong, maka akan terasa indah, Allah SWT berfirman:
"...Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan" (QS. Al-Maidah: 2)Rosululloh SAW pun mengajarkan:
"tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan terzhalimi", lalu sahabat bertanya "menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?", Rosul menjawab, " membantu mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya". (Bukhari&Ahmad)
Jadi kesimpulannya, ada beberapa hal penting yang dapat diambil:
1. Saat ada yang berbuat tidak baik atau zhalim pada diri kita, janganlah dibalas dengan kejahatan atau
kezhaliman yang serupa, tapi balaslah dengan kebaikan (memaafkan dan menjegah dia melakukan kesalahan yang sama).
2. Jangan terlalu egois untuk mau meminta maaf duluan, karena kita tidak pernah tahu apakah kita melakukan kesalahan atau tidak, jadi lebih baik minta maaflah. Minta maaf tidak membuat mu rendah dihadapan orang yang kamu mintai maaf (kecuali orang aneh yaa, yang merasa, kalau ada orang minta maaf sama dia, dia langsung melambung tinggi dan dalam hatinya bilang "tuh kan, emang iya sie elo yang salah, ngaku juga akhirnya kesalahan elo selama ini"....ckckckck,,,kalau ada orang yang kayak begini ni...harus diapain coba..???, ngga ngefek berarti ya,,hmmm)
3. Jangan juga terlalu ego untuk mengucap kata "tolong", itu wajar karena semua orang butuh pertolongan.
4. Jangan hanya karena kesombongan pada kemampuan diri sendiri "merasa mampu" dan "merasa tidak bersalah" akhirnya membuat kita lupa meminta maaf dan mengucap tolong...hehehe...
So, untuk diriku sendiri...inget ya ghie, sabar aja kalau ada orang yang belum bisa maafin kesalahan kamu sepenuhnya, yang penting kamu udah minta maaf duluan, sekarang jangan gampang terpengaruh dengan segala apa yang dia lakukan, jika memang ternyata apa yang dia lakukan hanya sebatas untuk membuatmu makin merasa bersalah dan memojokkanmu, Forget it Oce...ada Tuhan dan orang-orang yang selalu mencintai kita dan mereka selalu membukakan tangannya untuk menolong dan mendoakan kita semua"..aamiin...
Teruslah tatap masa depan dengan Bijaksana dan penuh Optimis tanpa harus Mengeluh :)
Ganbatte!!
With Love
Ghie'
Saturday, November 5, 2011
Idul Adha 1432 H
Hari ini seluruh umat muslim di dunia merayakan Idul Adha..begitu banyak adzan berkumandang hari ini, layaknya hari lebaran. Idul adha selalu diadakan setiap tanggal 10 bulan Dzulhijah, pada hari ini semua orang yang merayakannya selain melaksanakan sholat idul adha juga berqurban, yaitu menyembelih hewan qurban, baik itu sapi, kambing atau domba.
Bulan Dzulhijah juga bertepatan dengan musim haji, dimana para muslim yang berhaji, berwukuf di padang arafah. Bagi mereka yang berhaji, berwukuf ini wajib hukumnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak melakukan haji, di sunahkan untuk berpuasa arafah, puasa pada satu hari sebelum idul adha, atau tanggal 9 Dzulhijah.
Pada saat semua muslim yang berhaji melakukan wukuf di Arafah, maka mereka akan berdoa pada Allah, agar semua dosa-dosa diampuni, saat inilah bagi kita yang belum memiliki kesempatan untuk berhaji, disarankan untuk bangun tengah malam, sholat dan kemudian berdoa, agar semua doa orang-orang yang sedang berwukuf di arafah juga terlimpah keberkahannya kepada kita.
Sebenarnya ada dua peristiwa penting pada saat Idul Adha, pertama adalah wukuf di arafah dan berpuasa arafah, yang ke dua adalah berqurban.
Berqurban, merupakan salah satu bentuk pengorbanan bagi umat muslim. Peristiwa ini diawali dari kejadian beratus-ratus tahun yang lalu, ketika Nabi Ibrahim as, mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail as, padahal Nabi Ibrahim sangat sayang kepada Ismail, karena untuk mendapatkan putranya yang sangat dicintainya itu, Nabi Ibrahim harus menunggu sekian lama. Namun, karena ketaatan Nabi Ibrahim pada Allah SWT, maka ia pun rela untuk menyembelih anaknya. Pada saat nabi Ismail akan disembelih lehernya oleh ayahnya sendiri, sang ayah tak kuasa menahan sedih dan tak mampu untuk menyembelih putranya sendiri, saat itu nabi Ismail berkata, "ayah, tidak apa-apa, lakukan saja, saya ikhlas jika ini memang perintah Allah", saat itulah Nabi Ibrahim tak kuasa lagi dan saat beliau akan meletakkan pisau itu di leher Ismail, tiba-tiba saja putranya tersebut ditukar oleh Allah dengan seekor kambing.
Peristiwa ini sangat bermakna bagi umat muslim, dimana ketaatan kepada Allah merupakan hal yang seharusnya kita utamakan bahkan dari suatu hal yang sangat kita cintai sekalipun. Berqurban membuat kita menyadari bahwa sebenarnya Allah pun mengingkan kita untuk bisa berbagi dengan orang lain. Dengan berqurban bukan hanya kesholehan diri yang kita capai tapi juga kesholehan sosial. Makna Qurban yang tadi pagi saya dengar di Ceramah Idul Adha, di Lapangan Masjid Agung Ciamis, bahwa secara epistemologi qurban artinya dekat dan usaha, artinya, qurban merupakan suatu usaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi segala hal yang membuat kita jauh dengan sang Khalik. Oleh karena itu qurban bukan hanya sebatas simbol fisik saja, bukan hanya sebatas menyembelih hewan qurban, tapi qurban secara sosial merupakan suatu tindakan agar kita bisa lebih peduli dengan lingkungan dan apa yang terjadi di masyarakat, agar kita menjadi manusia yang lebih peka, bukan hanya menyolehkan diri sendiri tapi juga menyolehkan masyarakat.
Ketika melihat hewan qurban disembelih barusan, saya kasian dan ngeri melihatnya, tapi di satu sisi saya jadi berpikir, mungkin beginilah seharusnya ketika saya harus "mengurbankan" segala sifat-sifat buruk dan malas serta segala sesuatu yang bisa menghalangi saya dekat dengan Allah. Tadi saya melihat sapi itu bergetar dan mengeluarkan suara yang "memilukan" saat lehernya di sembelih, begitu pula saat kita mengurbankan sifat-sifat buruk, malas, sombong, permusuhan, kikir dan lain sebagainya harus sampai bergetarrrr, dengan sekuat tenaga agar terhindar dari sifat-sifat buruk tersebut dan selalu dekat denganNya. hmmm...penyadaran diri...
Jadi, intinya Idul Adha itu ternyata bukan sekedar menyembelih hewan qurbannya saja, tapi juga lebih kepada pemaknaan yang mendalam, bahwa sudahkah kita "mengurbankan" sifat-sifat tidak baik yang ada dalam diri kita sendiri dan lebih dekat dengan Allah?".
Bagi yang merayakan hari Idul Adha, sarannya:
1) Jangan lupa untuk puasa Arafah pada tgl 9 Dzulhijah bagi yang tidak berhaji.
2) Bagi mereka yang sudah mampu sisihkan sedikit uangnya untuk berbagi dengan orang lain lewat berqurban "hewan qurban", dan
3) Terus perbaiki diri dan selalu berusaha untuk bisa berbuat baik pada sesama dan dekat dengan Allah SWT.
Jya, selamat Idul Adha semuanya, semoga kita mendapatkan hikmah dan barokah di hari yang mulia ini, aamiin :) Terus Berjuang...Ganbatte!!
Bulan Dzulhijah juga bertepatan dengan musim haji, dimana para muslim yang berhaji, berwukuf di padang arafah. Bagi mereka yang berhaji, berwukuf ini wajib hukumnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak melakukan haji, di sunahkan untuk berpuasa arafah, puasa pada satu hari sebelum idul adha, atau tanggal 9 Dzulhijah.
"Puasa arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang” (HR Muslim)
![]() | |||
| Tempat wukufdi arafah (picture taken when i was Umroh, 2011) |
![]() |
| Tempat para haji yang akan berwukuf tahun ini :) |
Pada saat semua muslim yang berhaji melakukan wukuf di Arafah, maka mereka akan berdoa pada Allah, agar semua dosa-dosa diampuni, saat inilah bagi kita yang belum memiliki kesempatan untuk berhaji, disarankan untuk bangun tengah malam, sholat dan kemudian berdoa, agar semua doa orang-orang yang sedang berwukuf di arafah juga terlimpah keberkahannya kepada kita.
Sebenarnya ada dua peristiwa penting pada saat Idul Adha, pertama adalah wukuf di arafah dan berpuasa arafah, yang ke dua adalah berqurban.
Berqurban, merupakan salah satu bentuk pengorbanan bagi umat muslim. Peristiwa ini diawali dari kejadian beratus-ratus tahun yang lalu, ketika Nabi Ibrahim as, mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail as, padahal Nabi Ibrahim sangat sayang kepada Ismail, karena untuk mendapatkan putranya yang sangat dicintainya itu, Nabi Ibrahim harus menunggu sekian lama. Namun, karena ketaatan Nabi Ibrahim pada Allah SWT, maka ia pun rela untuk menyembelih anaknya. Pada saat nabi Ismail akan disembelih lehernya oleh ayahnya sendiri, sang ayah tak kuasa menahan sedih dan tak mampu untuk menyembelih putranya sendiri, saat itu nabi Ismail berkata, "ayah, tidak apa-apa, lakukan saja, saya ikhlas jika ini memang perintah Allah", saat itulah Nabi Ibrahim tak kuasa lagi dan saat beliau akan meletakkan pisau itu di leher Ismail, tiba-tiba saja putranya tersebut ditukar oleh Allah dengan seekor kambing.
Peristiwa ini sangat bermakna bagi umat muslim, dimana ketaatan kepada Allah merupakan hal yang seharusnya kita utamakan bahkan dari suatu hal yang sangat kita cintai sekalipun. Berqurban membuat kita menyadari bahwa sebenarnya Allah pun mengingkan kita untuk bisa berbagi dengan orang lain. Dengan berqurban bukan hanya kesholehan diri yang kita capai tapi juga kesholehan sosial. Makna Qurban yang tadi pagi saya dengar di Ceramah Idul Adha, di Lapangan Masjid Agung Ciamis, bahwa secara epistemologi qurban artinya dekat dan usaha, artinya, qurban merupakan suatu usaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi segala hal yang membuat kita jauh dengan sang Khalik. Oleh karena itu qurban bukan hanya sebatas simbol fisik saja, bukan hanya sebatas menyembelih hewan qurban, tapi qurban secara sosial merupakan suatu tindakan agar kita bisa lebih peduli dengan lingkungan dan apa yang terjadi di masyarakat, agar kita menjadi manusia yang lebih peka, bukan hanya menyolehkan diri sendiri tapi juga menyolehkan masyarakat.
![]() | |
| Saat Sapi harus diqurbankan |
Ketika melihat hewan qurban disembelih barusan, saya kasian dan ngeri melihatnya, tapi di satu sisi saya jadi berpikir, mungkin beginilah seharusnya ketika saya harus "mengurbankan" segala sifat-sifat buruk dan malas serta segala sesuatu yang bisa menghalangi saya dekat dengan Allah. Tadi saya melihat sapi itu bergetar dan mengeluarkan suara yang "memilukan" saat lehernya di sembelih, begitu pula saat kita mengurbankan sifat-sifat buruk, malas, sombong, permusuhan, kikir dan lain sebagainya harus sampai bergetarrrr, dengan sekuat tenaga agar terhindar dari sifat-sifat buruk tersebut dan selalu dekat denganNya. hmmm...penyadaran diri...
![]() | |
| Taken when Eid Adha Shalah this Morning :) |
Jadi, intinya Idul Adha itu ternyata bukan sekedar menyembelih hewan qurbannya saja, tapi juga lebih kepada pemaknaan yang mendalam, bahwa sudahkah kita "mengurbankan" sifat-sifat tidak baik yang ada dalam diri kita sendiri dan lebih dekat dengan Allah?".
Bagi yang merayakan hari Idul Adha, sarannya:
1) Jangan lupa untuk puasa Arafah pada tgl 9 Dzulhijah bagi yang tidak berhaji.
2) Bagi mereka yang sudah mampu sisihkan sedikit uangnya untuk berbagi dengan orang lain lewat berqurban "hewan qurban", dan
3) Terus perbaiki diri dan selalu berusaha untuk bisa berbuat baik pada sesama dan dekat dengan Allah SWT.
Jya, selamat Idul Adha semuanya, semoga kita mendapatkan hikmah dan barokah di hari yang mulia ini, aamiin :) Terus Berjuang...Ganbatte!!
Friday, October 28, 2011
What is Success..?
Semua orang pasti ingin sukses, siapa sie yang ngga mau sukses, termasuk saya juga ingin sukses:). Sebenarnya apa arti kata sukses menurut kalian. umm, setiap orang memiliki makna "kesuksesan" yang berbeda-beda. S-U-K-S-E-S bisa diartikan sebagai kondisi dimana seseorang telah mencapai titik puncak dalam kehidupannya atau saat seseorang merasa segala kebutuhannya sudah terpenuhi, atau bisa juga saat seseorang bisa memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Sukses itu bisa apa saja dan kalian pasti punya versinya masing-masing.
Kesuksesan menurut Mario Teguh, seorang motivator yang "sukses" dalam acara "Mario Teguh Golden Ways" di salah satu statiun TV Swasta Indonesia, beliau mengatakan bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita keluar dari arena "comfort zone" dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya yang dibarengi dengan rasa rendah hati terhadap sesama.
Muhammad Assad, seorang penulis muda yang mendapatkan beasiswa S2 di Qatar dan "sukses" menulis buku "Notes From Qatar", mengungkapkan dalam bukunya, bahwa kesuksesan bukan sekedar mencapai keberhasilan materi atau penghargaan semata namun yang lebih penting adalah bagaimana kita berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup dengan nilai murni atau prinsip seperti kejujuran, kerja keras, dan juga nilai agama, "success with values".
Pernyataan dari dua tokoh yang "sukses" menginspirasi banyak umat ini membuat saya teringat akan pernyataan seorang guru besar umat manusia, "the great teacher of human kinds", teladan umat, model for all human beings, Muhammad SAW.
Ambisius yang bukan Ambisi
Selama menjalani kehidupan sebagai seorang remaja, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang ambisius, pekerja keras dan sangat fokus dengan tujuan hidupnya, baik itu teman maupun keluarga, hal ini mempengaruhi saya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun kesannya menjadi terlalu "perfect" or ambisius.
Tumbuh di lingkungan seperti ini membuat saya untuk bisa menyamai kesuksesan orang lain dan bahkan ingin lebih dari mereka. Lama kelamaan memiliki sifat seperti ini membuat saya "lelah" dan "cape" sendiri. Ketika tidak berhasil menyamai mereka yang menurut saya "sukses" akhirnya "putus asa" dan desperate, atau bahasa gaulnya "madesu"...seolah-olah masa depan suram banget deh.
Belum lagi satu tahun yang harus saya lalui dengan "kosong" alias tanpa pekerjaan dan aktifitas yang berarti (mau bilang "pengangguran" tapi rasanya gimana gitu ya...ahahaha). Sampai pada puncaknya yaitu saat menerima kegagalan yang bertubi-tubi, "tertolak" dalam dunia pekerjaan again and again, kata "sukses" makin menjauh dalam hidup saya. Bukan itu saja, cibiran dan sikap tak acuh dari beberapa keluarga pun membuat saya lebih tak semangat lagi.
Hingga saya melihat ada satu pintu yang terbuka, dan saya pikir itu adalah semata-mata "pintu rahmat" dari Tuhan. Ketika saya mulai membaca kembali lingkungan dengan mata, pikiran dan hati yang jernih, barulah ditemukan sebuah jalan, jalan yang mengarah pada impian dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Pertanyaan dimulai pada diri sendiri "untuk apa saya hidup dan apa yang saya inginkan dalam hidup ini?". Saya menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan dunia-akhirat dan saya juga ingin selamat di akhirat nanti. Semua muslim pasti menginginkan hal yang sama. Tapi terkadang kita lupa "cara" nya.
Bukankah manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya:
Selama ini kita sering mendikotomikan antara "duniawi" dengan "jalan agama", masalah dunia dan agama dipisahkan oleh persepsi kita sendiri yang terlalu fokus dengan "kebahagiaan duniawi". Padahal kita diciptakan dan hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Tapi ibadah yang kita bayangkan hanya sebatas, sholat, puasa, dan yang lainnya, sehingga saat kita belajar, bekerja, berdagang, atau bersosialisasi, lepas dari "jalan agama" dan mengkategorikannya sebagai "masalah duniawi". Seharusnya, ibadah itu mencakup semua aspek kehidupan kita, baik saat kita belajar, bekerja, berdagang atau saat bekerja sama dengan orang lain, tujuannya hanya satu yaitu sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Kesuksesan hidup itu sendiri memiliki makna yang luas, orang boleh mengatakan bahwa, saya sukses kalau sudah bisa punya mobil, rumah mewah, isteri/suami yang cantik, anak-anak yang pintar, karir yang mantap, bisa jadi Boss, punya mertua kaya raya, bisa sekolah ke Luar Negeri, dll. Semua hal ini sah-sah saja, namun yang membedakannya adalah cara dan tujuan (niat) kita meraih kesuksesan tersebut.
Apakah seseorang mendapatkan kesuksesannya itu dengan cara "menghalalkan segalanya", mendzolimi dan menyakiti perasaan orang lain, korupsi, atau dengan kerja keras dan kejujuran? Lalu apa tujuan kita mencapai kesuksesan, apakah karena sebatas ingin mendapatkan uang yang banyak, agar orang lain segan terhadap kita, agar kita terlihat 'hebat" oleh orang lain, bisa mendominasi dan menginjak orang lain dengan kekuasaan yang kita miliki atau karena ingin membantu orang lain, melayani masyarakat, membahagiakan keluarga dan membuat Tuhan bahagia?
Rasulullah pun pernah bersabda:
Kita semua boleh mendapatkan kesuksesan yang sama atau berbeda, si A mungkin sukses bikin buku yang laris, si B sukses punya kapal pesiar, dll, tapi di mata Tuhan yang membedakannya hanya satu, yaitu ketaqwaannya.
Kuncinya, kesuksesan menurut saya adalah, "it's a way and our intention to achieve our goal, in order to obtain the blessing of God"...niat, tujuan, dan Ridho Allah semata....dan seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, sukses bagi saya adalah ketika apa yang saya lakukan baik itu belajar maupun bekerja dapat bermanfaat untuk orang lain..:)
With Love
Ghie....
Kesuksesan menurut Mario Teguh, seorang motivator yang "sukses" dalam acara "Mario Teguh Golden Ways" di salah satu statiun TV Swasta Indonesia, beliau mengatakan bahwa kesuksesan adalah bagaimana kita keluar dari arena "comfort zone" dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya yang dibarengi dengan rasa rendah hati terhadap sesama.
Muhammad Assad, seorang penulis muda yang mendapatkan beasiswa S2 di Qatar dan "sukses" menulis buku "Notes From Qatar", mengungkapkan dalam bukunya, bahwa kesuksesan bukan sekedar mencapai keberhasilan materi atau penghargaan semata namun yang lebih penting adalah bagaimana kita berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup dengan nilai murni atau prinsip seperti kejujuran, kerja keras, dan juga nilai agama, "success with values".
Pernyataan dari dua tokoh yang "sukses" menginspirasi banyak umat ini membuat saya teringat akan pernyataan seorang guru besar umat manusia, "the great teacher of human kinds", teladan umat, model for all human beings, Muhammad SAW.
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah" (Al-Ahzab:21)Rasulullah pernah bersabda bahwa "The best people are those who are most useful to others". Kalimat ini benar-benar menggugah hati dan sangat memberikan inspirasi bagi saya. Bagaimana proses "inspiring" masuk ke dalam jiwa yang sedang belajar untuk menjadi lebih "dewasa" ini, just read this story :)
Ambisius yang bukan Ambisi
Selama menjalani kehidupan sebagai seorang remaja, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang ambisius, pekerja keras dan sangat fokus dengan tujuan hidupnya, baik itu teman maupun keluarga, hal ini mempengaruhi saya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun kesannya menjadi terlalu "perfect" or ambisius.
Tumbuh di lingkungan seperti ini membuat saya untuk bisa menyamai kesuksesan orang lain dan bahkan ingin lebih dari mereka. Lama kelamaan memiliki sifat seperti ini membuat saya "lelah" dan "cape" sendiri. Ketika tidak berhasil menyamai mereka yang menurut saya "sukses" akhirnya "putus asa" dan desperate, atau bahasa gaulnya "madesu"...seolah-olah masa depan suram banget deh.
Belum lagi satu tahun yang harus saya lalui dengan "kosong" alias tanpa pekerjaan dan aktifitas yang berarti (mau bilang "pengangguran" tapi rasanya gimana gitu ya...ahahaha). Sampai pada puncaknya yaitu saat menerima kegagalan yang bertubi-tubi, "tertolak" dalam dunia pekerjaan again and again, kata "sukses" makin menjauh dalam hidup saya. Bukan itu saja, cibiran dan sikap tak acuh dari beberapa keluarga pun membuat saya lebih tak semangat lagi.
Hingga saya melihat ada satu pintu yang terbuka, dan saya pikir itu adalah semata-mata "pintu rahmat" dari Tuhan. Ketika saya mulai membaca kembali lingkungan dengan mata, pikiran dan hati yang jernih, barulah ditemukan sebuah jalan, jalan yang mengarah pada impian dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Pertanyaan dimulai pada diri sendiri "untuk apa saya hidup dan apa yang saya inginkan dalam hidup ini?". Saya menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan dunia-akhirat dan saya juga ingin selamat di akhirat nanti. Semua muslim pasti menginginkan hal yang sama. Tapi terkadang kita lupa "cara" nya.
Bukankah manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (Qs. Adz-Dzariyat (51):56)
Selama ini kita sering mendikotomikan antara "duniawi" dengan "jalan agama", masalah dunia dan agama dipisahkan oleh persepsi kita sendiri yang terlalu fokus dengan "kebahagiaan duniawi". Padahal kita diciptakan dan hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Tapi ibadah yang kita bayangkan hanya sebatas, sholat, puasa, dan yang lainnya, sehingga saat kita belajar, bekerja, berdagang, atau bersosialisasi, lepas dari "jalan agama" dan mengkategorikannya sebagai "masalah duniawi". Seharusnya, ibadah itu mencakup semua aspek kehidupan kita, baik saat kita belajar, bekerja, berdagang atau saat bekerja sama dengan orang lain, tujuannya hanya satu yaitu sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Kesuksesan hidup itu sendiri memiliki makna yang luas, orang boleh mengatakan bahwa, saya sukses kalau sudah bisa punya mobil, rumah mewah, isteri/suami yang cantik, anak-anak yang pintar, karir yang mantap, bisa jadi Boss, punya mertua kaya raya, bisa sekolah ke Luar Negeri, dll. Semua hal ini sah-sah saja, namun yang membedakannya adalah cara dan tujuan (niat) kita meraih kesuksesan tersebut.
Apakah seseorang mendapatkan kesuksesannya itu dengan cara "menghalalkan segalanya", mendzolimi dan menyakiti perasaan orang lain, korupsi, atau dengan kerja keras dan kejujuran? Lalu apa tujuan kita mencapai kesuksesan, apakah karena sebatas ingin mendapatkan uang yang banyak, agar orang lain segan terhadap kita, agar kita terlihat 'hebat" oleh orang lain, bisa mendominasi dan menginjak orang lain dengan kekuasaan yang kita miliki atau karena ingin membantu orang lain, melayani masyarakat, membahagiakan keluarga dan membuat Tuhan bahagia?
Rasulullah pun pernah bersabda:
"sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dihijrahi”. (HR. Al-Bukhori: 1)Intinya, kita boleh punya seribu impian kesuksesan yang ingin diraih, tapi usahakan bukan sekedar sukses yang didapat, namun cara dan tujuan/niat dalam menggapai kesuksesan itu yang lebih penting.
Kita semua boleh mendapatkan kesuksesan yang sama atau berbeda, si A mungkin sukses bikin buku yang laris, si B sukses punya kapal pesiar, dll, tapi di mata Tuhan yang membedakannya hanya satu, yaitu ketaqwaannya.
"...Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu sekalian" (Qs. Al Hujurat (49):13).Apalah arti sebuah kesuksesan jika membuat kita menjadi pribadi yang justru tidak baik, menjadi sombong dan arogan, mengutip kata pak Mario Teguh, bahwa suskses berarti berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan tetap rendah hati. Rasulullah pun mengatakan bahwa:
Lagipula, bukanlah kesuksesan itu sendiri yang menjadi esensi bagi perilaku manusia, namun, proses dalam mencapai keberhasilan itu lah yang akan mendewasakan dan "memanusiakan manusia" sesuai dengan fitrahnya. Meskipun apa yang menjadi impian kesuksesan kita tidak tercapai, tapi jika kita sudah mengusahakannya dengan nilai-nilai dan prinsip kebaikan, maka sesungguhnya kita pun telah sukses, sukses menghadapi tantangan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan. Sependapat dengan Albert Einsten yang ditulis dalam buku Muhammad Assad, Notes From Qatar "Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value" .'Tidak masuk surga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari kesombongan...." dan "Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR.Muslim)
Kuncinya, kesuksesan menurut saya adalah, "it's a way and our intention to achieve our goal, in order to obtain the blessing of God"...niat, tujuan, dan Ridho Allah semata....dan seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, sukses bagi saya adalah ketika apa yang saya lakukan baik itu belajar maupun bekerja dapat bermanfaat untuk orang lain..:)
With Love
Ghie....
Subscribe to:
Posts (Atom)





